Pada suatu hari ada tiga orang sahabat yaitu Vina, Kevin dan
Nina. Vina adalah perempuan manja, cerewet, tetapi dia perhatian dan sayang
kepada semua orang. Sedangkan Kevin, dia lucu humoris, perhatian, tetapi dia
cuek dan misterius. Banyak wanita yang terpikat oleh ketampanan Kevin, tapi
Kevin memanganggap itu semua adalah pujian atas kesempurnaan yang diberikan
Tuhan padanya dan ia pun tak pernah sombong. Walaupun begitu ternyata Vina
memendam perasaan dengan Kevin dan ia yakin bahwa Kevin juga mencintainya
karena Kevin sangat baik dan perhatian kepadanya, tapi kenyataannya berbeda,
Kevin mencintai perempuan anggun, cantik, manis, sopan dan baik seperti Nina.
“teett…teett…tteet…” bel istirahat telah berbunyi, Vina,
Kevin, Nina menikmati indahnya istirahat sekolah.
“ Nin mau makan apa?
Aku pesenin ya “ rayu Kevin pada Nina
“ Boleh kok, pesen
seperti biasa aja. “ jawab Nina
Saat Kevin hendak memesan makanan, ada satu wanita yang
cemburu karena kebaikan Kevin pada Nina.
“ eehmm…ehhmm…
aku kok nggak ditanyain sich “ cemburu Vina
“ maaf
maaf aku kelupaan, hehehehe. Kamu mau pesen apa nona cantik ? “ canda Kevin
“ apa
aja boleh asal kamu yang bawain. “
“ oke
deh “
Setelah acara pesan – memesan selesai ketiga
sahabat tersebut kembali kekelas melanjutkan pelajaran sampai selesai.
Persahabatan mereka tak pernah ada tandingannya. Setiap sore
mereka belajar bersama, sambil bercanda atau sekedar membuang kepenatan.
“ Nina, bapak kamu
tukang tambal ban ya ? “ rayu Kevin
“ ya, kok tau sih ? “
jawab Nina
“ karena kamu mampu
menambal rasa sakit hatiku terdahulu dengan cintamu “
“ ooooohhh kamu so sweet banget “
Karena vina kesal mendengar rayuan – rayuan Kevin pada Nina,
ia pun cemberut sambil ngomong sendirian kayak orang gila.
Malam harinya Vina membayangkan wajah Kevin sambil sesekali
ia mengingat kejadian tadi. Ia kesal, kenapa bukan dirinya yang dirayu, kenapa
mesti Nina. Vina bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Kevin, karena ia
tak mau Nina lebih dahulu mendapatkan Kevin.
“ Kevin, aku boleh
ngomong sebentar nggak ? “
“ Nina, aku pinjem
Kevin sebentar ya ? “ lanjut Vina
“ boleh kok tapi ntar
dulu aku mau ngomong sesuatu. Eeeehhhm Vin, aku sama Nina udah jadian tadi
malem “ kata Kevin
Bagaikan tersambar petir, kata – kata Kevin membuat hati Vina
tersobek – sobek.
“ Vin, gimana jadi
ngomong nggak ? ” Tanya Kevin menghentikan lamunan Vina
“ hhmm nggak jadi dah,
oh ya buat kalian berdua, selamat ya , aku ikut senang kok. “ Jawab Vina agar
mereka tak curiga
Rasa sedih, galau dan hancur dirasakan Vina, ia tak tega
hatinya tersakiti tapi ia berusaha untuk ikhlas dan sabar. Vina selalu
bersandiwara ketika mereka bertiga bersama, Vina selalu bahagia, selalu ceria
tapi hatinya sedih, marah dan tidak terima. Setiap mereka bertiga bersama pasti
saja malam harinya Vina menangis.
Pada suatu hari Nina pingsan dan Kevin melarikannya ke rumah
sakit. Setelah dokter selesai memeriksa kondisi Nina, dokter pun menyuruh Kevin
datang keruangannya dan siapa sangka dokter menyatakan Nina terkena penyakit
gagal ginjal yang hanya bisa diobati dengan operasi pendonoran ginjal. Kevin
bingung harus berbuat apa, ia sangat ingin mendonorkan ginjalnya pada Nina tapi
golongan darah mereka berbeda. Vina yang mendengar kabar itu langsung kaget dan
ia pun langsung menuju rumah sakit tempat Nina dirawat. Saat ia melihat Nina
dengan kadaan terbaring lemas, ia sangat sedih.
Saat Kevin datang kerumah sakit untuk melihat keadaan Nina,
Kevin terkejut karena Nina sudah mendapatkan ginjal dan Nina sudah melewati
masa kritisnya. Kevin sangat bahagia, ia terus menggenggam tangan Nina. Tiba –
tiba kriing… kriing… HP Kevin berdering.
“ halo… “
“ ini Kevin sahabatnya
Vina ? “
“ iya benar, ini siapa
ya ? “
“ saya ibunya Vina,
Vina me.. me.. “
Terdengar isak tangis seorang wanita yang mengaku ibunya
Vina.
“ Vina kenapa Buk ? “
panik Kevin
“ Vina meninggal, ia
sudah tiada “
Terdengar isak tangis lebih keras saat si Ibu berkata Vina
meninggal. Kevin pun menangis dan berteriak tak tertahankan saat Ia mendengar
fakta tersebut, Kevin tak sadar bahwa ia di rumah sakit. Saat Kevin berteriak,
Nina tersadar dan ia bertanya apa yang sedang terjadi, Kevin pun menceritakan
semuanya. Nina yang mendengar semua cerita Kevin, menangis.
Semua sahabat dan teman – teman Vina datang dalam prosesi
pemakamannya. Mereka semua tak dapat membendung air mata lagi, semua air mata
menetes terutama Kevin dan Nina, mereka berdua tidak menyangka secepat ini Vina
pergi. Saat prosesi pemakaman selesai, ibunya Vina memberi sebuah buku diary
kepada Kevin, katanya saat Vina meninggal, buku tersebut yang selalu
menemaninya.
Sesampai dirumah, Kevin membuka isi buku tersebut dan isinya
tentang hidupnya dan masa lalunya. Tapi Kevin sempat terkaget karena dalam buku
tersebut tertulis bahwa sejak 3 tahun yang lalu, Vina memendam perasaan pada
dirinya dan akan mengatakannya tapi Kevin sudah terlanjur berpacaran dengan
Nina. Pada akhir buku tertulis diary terakhir yang tertulis
“ DEAR DIARY
AKU SANGAT MENCINTAINYA TAPI DIA TELAH MEMILIKI SEORANG PUJAAN HATI, AKU
TAK MUNGKIN MEMAKSAKAN HATI KARENA ITU SEMUA MEMBUATKU TERLUKA.
KINI WANITA YANG DICINTAI OLEH PRIA PUJAAN HATIKU SEDANG SAKIT, AKU AKAN
MELAKUKAN APAPUN DEMI KESEMBUHANNYA DAN KEBAHAGIAAN PUJAAN HATIKU, AKU AKAN
MENDONORKAN GINJALKU DEMI DIRINYA, PACAR PUJAAN HATIKU, PUJAAN HATIKU DAN DEMI SAHABATKU “
Setelah membaca diary tersebut, Kevin paham dengan semua itu,
ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri, baginya kematian Vina karena dirinya.
Tapi tak bisa ia pungkiri takdir itu dan kini ia rela melepaskan Vina.