Sabtu, 20 Juli 2019
BIMBANG
"Ah purnama" desahku secara perlahan sembari tetap menatap langit yang indah itu. Sesekali aku melihat layar handphone ku berharap ada pesan darimu. Sudah lebih dari seminggu sejak terakhir kita bertemu, selama itu pula aku tak tau kabarmu.
Aku rindu itu sudah pasti tapi aku tak yakin untuk menanyakan kabar mu karena aku takut mengganggu mu dan jika kamu menginginkanku pasti kamu akan mengabariku terlebih dahulu. Aku ingat dulu pernah bersemangat menanyakan kabar seseorang tapi akhirnya dia tak meresponku sedikitpun dan akhirnya kami berpisah. Untuk cerita kali ini aku memilih untuk diam mendekap rindu ini dengan erat. Aku baca ulang percakapan yang pernah terjadi diantara kita berdua dan aku tertawa kecil sambil bergumam "apa tak bisa ini dilanjutkan?". Tiba - tiba seperti ada goresan kecil di dada dan sejenak tawa berubah menjadi tangis.
Aku bodoh, jika rindu kenapa tidak ku kirimkan saja pesan kecil padamu, hmmm trauma ku terdahulu membuatku tidak ingin memulai lebih dulu dan memilih untuk diam dan menunggu, "jika dia memiliki perasaan yang sama dia pasti akan terlebih dahulu menghubungi ku" ucapku dalam hati.
*****
Seminggu lagi telah berlalu tapi pesanmu tak pernah memanggilku atau mungkin kamu sendiri tak pernah menginginkan ku. Sudah kuduga selama ini pertemuan kita hanya sebatas saling sapa tanpa rasa dan hanya pengobat dikala sepi. Iya ini semua sebenarnya hanya kesepian bukan cinta yang datang menyeruak masuk dalam raga. Tapi mengapa aku masih tak percaya, aku ambil handphone ku dan kucari dirimu. "Kamu bahagia" gumamku dalam hati, melihat aktivitas sosialmu bersama teman - temanmu. Waah kamu terlihat begitu bahagia, aku senang walaupun bahagiamu bukan aku.
Aku tak seegois itu karena kamu sendiri bukan milikku.
*****
Sebulan telah berlalu dan kamu juga tak pernah mencariku. Mungkin aku benar - benar tidak ada artinya bagimu.
Aku memberanikan diri untuk menanyakan kabarmu, dalam hatiku aku meyakinkan diriku bahwa ini yang terakhir kalinya aku yang memulai duluan. Aku mengambil handphone ku dan mulai mengetik.
"Apa kabar?" Aku mengirim pesan sesingkat - singkatnya
"Baik" dia membalasnya dengan kata yang lebih singkat
"Kamu nggak rindu aku ya?"
Andai aku memiliki keberanian untuk mengirim pesan itu. Aku menghapusnya dan ku ganti dengan kata yang lebih singkat
"Oke"
Kita mengakiri pesan singkat ini, sesingkat yang aku pikirkan.
Mungkin banyak yang menyayangkan ini, kenapa tak aku tanyakan hal lain atau kenapa aku tidak bertanya hal basa basi dengannya setidaknya untuk memperpanjang pesan itu. Bukan kah sudah pernah kubilang "jika seorang pria menyukaimu seharusnya dia yang akan menanyakan kabarmu tanpa perlu ragu dan jika dia hanya diam tanpa mengirimkan satu pesan pun padamu, ya kamu tau apa arti semua itu"
Aku memutuskan untuk berhenti dan lebih baik untuk sendiri dulu sampai ada seseorang yang tiba - tiba mengubah tunggu ku menjadi temu yang berakhir satu.https://www.instagram.com/aridwahyuni/
Minggu, 14 Oktober 2018
Sedang Mencari....
Aku sedang tidak mencari sebuah status hubungan saja, tapi melihat bagaimana kedepannya, bukan untuk buru - bauru menikah tapi sadar bahwa memulai dari awal itu melelahkan
Yakinlah setelah berumur 20 tahun keatas semuanya terasa sulit, memulai hubungan pun begitu. Mungkin bagimu masih bisa bermain - main tapi aku, sebagai perempuan terlihat aneh jika menikah diatas usia 30. Jadi setelah usia ku 20 tahun, mulai serius mencari pasangan yang tepat bukan cepat - cepat untuk mengejar gelar "berpacaran".
Mungkin kamu melihatnya rumit atau bahkan kini sedang tertawa di dalam hati tapi hampir sebagian perempuan akan merasa seperti itu. Atau sebagian perempuan akan menyalahkan ku dengan bayangan mereka yang seakan - akan perempuan bisa menikah kapan saja yang penting dia sudah mandiri dan mapan atau bahkan mereka tidak butuh laki - laki karena sifat mandirinya yang sudah kuat. Tapi aku bukan perempuan yang seperti itu, aku juga perlu menikah menghasilkan keturunan dan yang terpenting aku hanya ingin hidup normal, menikah sesuai usia dan memiliki anak serta tetap bekerja sesuai profesi ku.
Maaf jika aku berbicara panjang dan tidak terarah, aku hanya ingin kamu tau jika yang ku inginkan sekarang bukan sekedar pacar yang bisa menanyakan apa aku sudah makan atau sekedar bertanya aku sedang apa, hmmm atau mungkin pacar yang setiap malam minggu menonton berdua sambil menikmati pop corn rasa caramel dan soft drink yang menggelitik ditenggorokan. Bukan nya tak senang melakukan itu, aku bahkan ingin melakukannya setiap minggu tapi bukannya itu tujuan berpacaran setelah usia 20 tahun tapi bagaimana kita membawa hubungan ini kedepannya.
Kamu boleh saja sekarang tertawa menganggap aku kuno atau terlalu naif atau bahkan kamu berfikir bahwa aku aneh yang terlalu menuntut, tapi aku yakin di dalam hati mu yang paling dalam pasti terbesit pemikiran " apa dia jodoh ku" atau " apa aku akan menikah dengannya " atau mungkin "apa hanya aku satu - satu nya yg dia punya"
Jika kamu sama sekali tidak memikirkan itu, boleh kan aku bertanya "kenapa kamu pacaran?" Apa hanya untuk putus atau hanya untuk bersenang - senang.
Pertanyaan itu mungkin lebih tepat bagimu yang berusia di atas 20 tahun tapi untuk kamu yang dibawah 20 tahun, kamu bebas memutuskan pacarmu dan berganti pacar lagi sampai menemukan yang tepat.
***
"Wah gila sih Ran, seperti menyudutkannya dan memakan nya hidup - hidup" kata - kata Damy yang seperti takjub mendengan spekulasiku mengenai hubungan di usia dewasa.
"Hahahaha aku hanya menjawabnya sesuai yang ada di pikiranku dan aku yakin semua orang yang ada di konferensi tadi mengerti jika itu hanya opini" sahut ku yang tak ingin ambil pusing masahal itu
"Opini mu menggiring semua orang untuk berpikir jika itu benar"
Aku hanya tersenyun tanpa memperdulikan jawaban yang harus aku berikan kepada sahabatm ku itu.
Jujur saja kalimat tadi seperti begitu saja keluar dari mulutku dan aku kini yang telah bertunangan seakan semua orang tidak percaya kalau itu terucap dari mulutku sendiri.
Namaku Aran, lengkapnya Arani Putri Utama perempuan 25 tahun yang bekerja sebagai konsultan psikologi. Aku telah bekerja selama 5 tahun dan seperti yang sudah aku katakan, aku memiliki tunangan bernama Fadly Wijaya. Fadly bekerja sebagai bisnisman yang sibuknya mengalahi kerja presiden, kami sama sekali jarang bertemu bahkan sebulan pun belum tentu bertemu. Dia menjalani bisnis properti bersama keluarga besarnya dan dia mendapatkan tempat di Sidney, Aistralia. Kami sudah berpacaran selama 9 tahun, hmmm iya dari awal kuliah.
Bertemu dengan tidak sengaja tapi satu hal yang aku bingung dari hubungan ini, kami tidak pernah menyinggung masalah pernikahan dan percaya atau tidak kami belum pernah ciuman sama sekali. Mungkin kalian tidak percaya, aku juga begitu tapi ini benar - benar terjadi. Sepasang manusia muda yang telah berpacaran selama 9 tahun tapi tidak pernah berciuman, terasa geli.
Kami menerapkan prinsip pacaran sehat tapi aku rasa pacaran ini lebih sehat dibandingkan mereka yang menganut aliran vegetarian penuh.
Minggu depan Fadly akan ke Indonesia dan dia akan mengurus perusahaan di Indonesia mulai sekarang. Aku senang dan kalian jangan cemburu ya.
***
"Halo Fadly, udah sampai mana?" Pacarku sudah sampai Indonesia, senang seperti tidak bisa diungkapkan. Mungkin kalian bertanya kenapa aku tidak memiliki sapaan yanv romantis seperti "yang, sayang, hubby, bebby, beb, honey, atau nama - nama aneh yang sering kita sebut cinta", bukannya aku tidak mau taoi dia bilang itu menggelikan dan setelah aku pikirkan itu juga sangat - sangat menggelikan.
"Ini aku sudah menuju apartement"
"Oke nanti kalau sudah sampai hubungi ya nanti aku kesana"
"Nggak usah buru - buru, selesikan dulu pekernjaanmu"
"Baiklah"
Kami menutup telepon bersamaan tanpa aba - aba seperti abg jaman sekarang yang setiao selesai telpon selalu bilang "kamu aja duluan, ah nggak kamu aja, jangan kamu aja duluan" gitu aja terus sampai dinosaurus hidup lagi.
Hari ini entah kenapa aku merasa tidak enak padahal pacarku baru saja pulang dari Sidney setelah 4 bulan tidak bertemu. Aku bergegas menyelesaikan pekerjaan dan membatalkan konsultasi hari ini hanya untuk pergi ke apartement Fadly untuk bertemu dengannya.
Perjalanan dari kantor menuju tempat tinggalnya satu setengah jam dan untung tidak macet, kalau macet bisa sampai 4 jam tidak sampai - sampai.
Ternyata Fadly juga baru sampai, terlihat dari dia masih mengenakan jas. Entah kenapa dia selalu cocok mengenakan jas dengan dalaman t-shirt biasa.
Dia mencium keningku dan membuatku kaget, ini pertama kalinga dia menciumku walaupun hanya di kening, aku norak.
"Apa kabat sayang?" Sapanya yang sangat tidak biasa
"Sayang? Wah ini seperti pertama kalinya. Aku baik sepperti yang kamu liat di sekarang"
"Memangnya aku nggak boleh manggil sayang?"
"Boleh dong"
"Oh ya, ntar malam aku ingin kita makan di Resto Ongho" itu salah satu restoran jepang terenak dan terfavorit kami berdua.
"Boleh, ya udah kalo gitu aku balik ya mau siap - siap"
"Oke nanti aku jemput"
Aku bergegas pulang tapi tiba2 aku merasa benar - benar tidak enak.
Malam tiba, aku mengenakan pakaian yang terkesan biasa saja, menggunakan dress selutut dengan rambut yang terurai dan riasan yang serba peach dan pink. Aku berpikir kenapa hari ini seperti kencan pertama anak remaja.
Fadly datang dengan menggunakan jaket army dan celana jeans hitam. Dia datang mnggunakan mobil jazz putihnya. Padahal tadi aku menyarankan dia untuk mengenakan motor saja tapi dia bilang ingi melihatku mengenakan dress jadinua dia memakai mobil dan aku mengenakan dress.
Ditempat makan tidak terjadi apapun, kita hanya menikmati makanan dengan candaan kecil tapi aku sempat memegang tangannya dan melihat ada yang berbeda sesuatu tak sama seperti terakhir aku lihat. Fadly langsung menarik tangannya dan permisi ke kamar mandi.
Aku mulai merasa sangat tidak enak, mungkin aku sedang demam karena sudah 2 hari lembur.
Fadly kembali dari kamar mandi dan kami menyelesaikan waktu makan ini. Kami setuju untuk pergi ke cafe gelato di dekat resto.
Aku bercerita tentang pandanganku mengenai pernikahan bahwa semua wanita diatas 20 tahun sebaiknya mulai memikirkan pernikahan bukan hanya sekedar berpacaran tanpa tau ujungnya. Aku bercerita lagi bahwa hanya sekedar pacaran itu untuk anak yang masih remaja dan sebaiknya mereka setelah dewasa memikirkan hubungan lebih serius bukan untuk terburu - burumenikah tapi untuk meyakinkan apakah pasangan yang diajaknya hari ini pantas dengannya.
"Aran, apa yang kamu katakan akan kamu terapkan ke dirimu sendiri?" Fadly menyela ceritaku dengan pertanyaan yang tak biasa
"Apa kamu ingin menikah denganku?" Fadly melanjutkan pertanyaannya yang membuatku mulai mengernyitkan dahi
"Iya pastinya, aku sudah 25 tahun dan sudah bekerja. Kamu pun seusia yang sama denganku dan bahkan kamu dipercaya mengelola perusahaan di Sidney sendirian. Kamu juga bilang bahwa akan di tempatkan di Indonesia. Dan pertanyaan terakhirmu, apa perlu aku jawab? Kita sudah bertunangan dan akhirnya kita juga akan menikah" aku menjelaskan secara perlahan
"Kalau itu yang kamu inginkan, lebih baik kita....." Fadly menghentikan bicaranya dan seakan sedang bingung ingin berkata sesuatu
"Lebih baik apa?, Katakan saja" bukannya gr tapi tidak masalahkan jika aku berfikir dia akan melamarku
"Lebih baik kiat berhenti sampai disini" Fadly menundukkan kepalanya dan aku sepeeri tak mendengan kalimat apapun yang keluar dari mulutnya
"Maksudmu?"
"Ya kita putus"
"Putus?? Maksudmu kita pacaran 9 tahun hanya untuk putus?" Aku langsung berdiri lupa jika sedang di cafe gelato dan semua orang menatap kearah kami.
Aku langsung pergi keluar setelah menyadari jika kami seperti tontonan mereka. Fadly mengikuti keluar dan meraih tanganku.
"Aran, bisa aku jelasin sebentar" Fadly berusaha meyakinkanku bahwa yang dia katakan tadi ada alasannya.
"Apa yang bisa kamu jelaskan?"
"Lihat cincin ini, apa menurutmu berbeda?" Dia menunjukkan jari tangannya yang berisikan cincin dan cincin itu berbeda dengan cincin pertunangan kami
"Itu cincin siapa?"
"Aku sudah menikah Ran"
Seperti tersambar petir mendengar kalimatnya, kalian kira aku percaya?
"Kamu bohong kan ? Pasti ada alasan lain"
"Kapan aku pernah bohong sama kamu?, Aku menikahinya karena dia hamil. Aku harus betanggung jawab"
"Kamu hamilin orang padahal kamu punya prinsip untuk tidak menyentuh pacarmu sendiri. Bahkan kita belum pernah ciuman tapi kamu hamilin orang?"
"Itu kesalahan Ran, aku minta maaf"
"Kamu kira maaf segampang itu, 9 tahun itu bukan waktu sebentar dan kamu mutusin aku seenteng ini dan minta maaf seakan tak terjadi apa - apa?"
Aku pergi tampa harus berkata apapun lagi. Aku seperti orang bodoh, seperti pemuja cinta. Terlalu percaya akan cinta lama bisa mengubah status pertunangan menjadi pernikahan. Aku menuju rumah Damy karena aku serasa tak memiliki tujuan lainnya.
"Damy" aku menangis setelah sampai di depan rumahnya
"Kamu kenapa Ran?, Sini masuk dulu"
Damy menarikku masuk kedalam rumahnya
"Aku buatin minum ya"
"Aku putus My"
Damy tiba - tiba diam di tempat dan langsung berbalik arah, seakan tak percaya.
"Kamu bercanda?"
Damy tidak jadi mengambilkan aku minum, seakan cerita ku lebih penting
"Alasannya apa?"
Aku hanya bisa menangis dan tak menjawab apapun.
"Menangis aja Ran, nangis sampai kamu sendiri tidak bisa mendengar tangisanmu sendiri" Dami menepuk punggung ku lembut.
" Aku mengerti My, kenapa banyak orang yang tidak ingin memulai lagi sebuah hubungan setelah tersakiti. Mereka memikirkan alasan untuk berhenti saja sudah lelah apalagi harus memulai dagu dari awal". Aku berbicara terbata - bata sambil sesenggukan dengan mata basah dan hidung meler.
"Sudah jangan bicara lagi, mending kamu nangis dan lupakan semuanya" Damy terus menepuk pundakku dan aku menamgis lebih kencang lagi sampai tak mendengar suara tangisanku lagi.
****
Pagi ini aku merasa sangat lelah, wajah yang dipenuhi make up luntur, mata bengkak, baju dam rambut acak2an. Aku merasa kemaren hanya mimpi tapi setelah aku ambil lagi hp ku, tertulis Fadly : 34 misscall dan 50 message.
Aku membalikkan hp ku dan tertidur lagi, aku ingin lupakan semuanya dan lupakan 9 tahun itu dari sekarang.
Selasa, 28 Maret 2017
Dari Aku yang Rindu Kamu (part 1)
Sabtu, 16 Juli 2016
Kamu Adalah Seseorang Itu dan Aku Adalah Dia
Mereka mencintai, mereka saling diam, dan mereka bersedih karena merasa tak dicintai. Mereka saling mendoakan, saling memandangi wajah dalam foto, atau mungkin bahkan hanya salah satu dari mereka yang melakukan itu, hingga suatu saat saling melupakan dan seakan tidak mengenal satu sama lain.
"cinta" berawal dari mata, tatapan mata seseorang disaat mengalunkan sebuah lagu, tatapan mata seseorang disaat melihatnya berfoto, tatapan mata seseorang saat sedang bahagia, tapi sayang tak ada yang berani mengucapkan kata cinta. Pesan bertuliskan " i love you " yang pernah diterimanya, tapi sayang dia selalu merasa pesan itu hanya palsu bukan seseorang tersebut yang mengucapkannya.
Akhir pertemuan tak ada satu kata pun yang terucap, perpisahan yang menyedihkan baginya. Berharap dapat berbicara dimasa akhir sekolah itu sudah pupus. Dia ingat terakhir kali berbicara dengan seseorang itu, sebelum ujian, iya ujian sekolah. Kalimat terakhir yang dia ucapkan pun masih terasa di lidah " kamu berubah, sudah mulai bolos", kalimat yang tak pernah dibalas oleh seseorang tersebut. Tapi dia senang karena akhirnya seseorang tersebut tidak pernah mengulangi perbuatannya. Waktu terus berlalu, dia selalu ingat hari penting seseorang yang dia cintai, hari ulang tahunnya, ucapan yang sudah dipersiapkan jauh - jauh hari dan alarm yang sudah di pasang pada waktu yang tepat, tapi seseorang itu tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Waktu terus berlalu hingga bertahun - tahun, dia tak mengerti kenapa selalu mancintai seseorang itu, dia mencoba mencari pengganti namun tetap dia mencintai seseorang itu. Hingga akhirnya dia tau kesalahan terbesar sebenarnya adalah keegoisan.
Mereka terlalu egois untuk saling mencintai dan saling mengucapkan cinta. Harapan untuk membanggakan orang tua menjadi penghalang untuk mengucapkan perasaan dan malu serta merasa diri buruk menjadi alasan utama dia memendam perasaannya