Sabtu, 20 Juli 2019

BIMBANG

Senja perlahan menyembunyikan dirinya hingga menghilang dari alam semesta dan digantikan dengan rembulan dan bintang.
"Ah purnama" desahku secara perlahan sembari tetap menatap langit yang indah itu. Sesekali aku melihat layar handphone ku berharap ada pesan darimu. Sudah lebih dari seminggu sejak terakhir kita bertemu, selama itu pula aku tak tau kabarmu.
Aku rindu itu sudah pasti tapi aku tak yakin untuk menanyakan kabar mu karena aku takut mengganggu mu dan jika kamu menginginkanku pasti kamu akan mengabariku terlebih dahulu. Aku ingat dulu pernah bersemangat menanyakan kabar seseorang tapi akhirnya dia tak meresponku sedikitpun dan akhirnya kami berpisah. Untuk cerita kali ini aku memilih untuk diam mendekap rindu ini dengan erat. Aku baca ulang percakapan yang pernah terjadi diantara kita berdua dan aku tertawa kecil sambil bergumam "apa tak bisa ini dilanjutkan?". Tiba - tiba seperti ada goresan kecil di dada dan sejenak tawa berubah menjadi tangis.
Aku bodoh, jika rindu kenapa tidak ku kirimkan saja pesan kecil padamu, hmmm trauma ku terdahulu membuatku tidak ingin memulai lebih dulu dan memilih untuk diam dan menunggu, "jika dia memiliki perasaan yang sama dia pasti akan terlebih dahulu menghubungi ku" ucapku dalam hati.
*****
Seminggu lagi telah berlalu tapi pesanmu tak pernah memanggilku atau mungkin kamu sendiri tak pernah menginginkan ku. Sudah kuduga selama ini pertemuan kita hanya sebatas saling sapa tanpa rasa dan hanya pengobat dikala sepi. Iya ini semua sebenarnya hanya kesepian bukan cinta yang datang menyeruak masuk dalam raga. Tapi mengapa aku masih tak percaya, aku ambil handphone ku dan kucari dirimu. "Kamu bahagia" gumamku dalam hati, melihat aktivitas sosialmu bersama teman - temanmu. Waah kamu terlihat begitu bahagia, aku senang walaupun bahagiamu bukan aku.
Aku tak seegois itu karena kamu sendiri bukan milikku.
*****
Sebulan telah berlalu dan kamu juga tak pernah mencariku. Mungkin aku benar - benar tidak ada artinya bagimu.
Aku memberanikan diri untuk menanyakan kabarmu, dalam hatiku aku meyakinkan diriku bahwa ini yang terakhir kalinya aku yang memulai duluan. Aku mengambil handphone ku dan mulai mengetik.
"Apa kabar?" Aku mengirim pesan sesingkat - singkatnya
"Baik" dia membalasnya dengan kata yang lebih singkat
"Kamu nggak rindu aku ya?"
Andai aku memiliki keberanian untuk mengirim pesan itu. Aku menghapusnya dan ku ganti dengan kata yang lebih singkat
"Oke"
Kita mengakiri pesan singkat ini, sesingkat yang aku pikirkan.
Mungkin banyak yang menyayangkan ini, kenapa tak aku tanyakan hal lain atau kenapa aku tidak bertanya hal basa basi dengannya setidaknya untuk memperpanjang pesan itu. Bukan kah sudah pernah kubilang "jika seorang pria menyukaimu seharusnya dia yang akan menanyakan kabarmu tanpa perlu ragu dan jika dia hanya diam tanpa mengirimkan satu pesan pun padamu, ya kamu tau apa arti semua itu"
Aku memutuskan untuk berhenti dan lebih baik untuk sendiri dulu sampai ada seseorang yang tiba - tiba mengubah tunggu ku menjadi temu yang berakhir satu.https://www.instagram.com/aridwahyuni/

Minggu, 14 Oktober 2018

Sedang Mencari....

Aku sedang tidak mencari sebuah status hubungan saja, tapi melihat bagaimana kedepannya, bukan untuk buru - bauru menikah tapi sadar bahwa memulai dari awal itu melelahkan
Yakinlah setelah berumur 20 tahun keatas semuanya terasa sulit, memulai hubungan pun begitu. Mungkin bagimu masih bisa bermain - main tapi aku, sebagai perempuan terlihat aneh jika menikah diatas usia 30. Jadi setelah usia ku 20 tahun, mulai serius mencari pasangan yang tepat bukan cepat - cepat untuk mengejar gelar "berpacaran".
Mungkin kamu melihatnya rumit atau bahkan kini sedang tertawa di dalam hati tapi hampir sebagian perempuan akan merasa seperti itu. Atau sebagian perempuan akan menyalahkan ku dengan bayangan mereka yang seakan - akan perempuan bisa menikah kapan saja yang penting dia sudah mandiri dan mapan atau bahkan mereka tidak butuh laki - laki karena sifat mandirinya yang sudah kuat. Tapi aku bukan perempuan yang seperti itu, aku juga perlu menikah menghasilkan keturunan dan yang terpenting aku hanya ingin hidup normal, menikah sesuai usia dan memiliki anak serta tetap bekerja sesuai profesi ku.
Maaf jika aku berbicara panjang dan tidak terarah, aku hanya ingin kamu tau jika yang ku inginkan sekarang bukan sekedar pacar yang bisa menanyakan apa aku sudah makan atau sekedar bertanya aku sedang apa, hmmm atau mungkin pacar yang setiap malam minggu menonton berdua sambil menikmati pop corn rasa caramel dan soft drink yang menggelitik ditenggorokan. Bukan nya tak senang melakukan itu, aku bahkan ingin melakukannya setiap minggu tapi bukannya itu tujuan berpacaran setelah usia 20 tahun tapi bagaimana kita membawa hubungan ini kedepannya.
Kamu boleh saja sekarang tertawa menganggap aku kuno atau terlalu naif atau bahkan kamu berfikir bahwa aku aneh yang terlalu menuntut, tapi aku yakin di dalam hati mu yang paling dalam pasti terbesit pemikiran " apa dia jodoh ku" atau " apa aku akan menikah dengannya " atau mungkin "apa hanya aku satu - satu nya yg dia punya"
Jika kamu sama sekali tidak memikirkan itu, boleh kan aku bertanya "kenapa kamu pacaran?" Apa hanya untuk putus atau hanya untuk bersenang - senang.
Pertanyaan itu mungkin lebih tepat bagimu yang berusia di atas 20 tahun tapi untuk kamu yang dibawah 20 tahun, kamu bebas memutuskan pacarmu dan berganti pacar lagi sampai menemukan yang tepat.
***
"Wah gila sih Ran, seperti menyudutkannya dan memakan nya hidup - hidup" kata - kata Damy yang seperti takjub mendengan spekulasiku mengenai hubungan di usia dewasa.
"Hahahaha aku hanya menjawabnya sesuai yang ada di pikiranku dan aku yakin semua orang yang ada di konferensi tadi mengerti jika itu hanya opini" sahut ku yang tak ingin ambil pusing masahal itu
"Opini mu menggiring semua orang untuk berpikir jika itu benar"
Aku hanya tersenyun tanpa memperdulikan jawaban yang harus aku berikan kepada sahabatm ku itu.
Jujur saja kalimat tadi seperti begitu saja keluar dari mulutku dan aku kini yang telah bertunangan seakan semua orang tidak percaya kalau itu terucap dari mulutku sendiri.
Namaku Aran, lengkapnya Arani Putri Utama perempuan 25 tahun yang bekerja sebagai konsultan psikologi. Aku telah bekerja selama 5 tahun dan seperti yang sudah aku katakan, aku memiliki tunangan bernama Fadly Wijaya. Fadly bekerja sebagai bisnisman yang sibuknya mengalahi kerja presiden, kami sama sekali jarang bertemu bahkan sebulan pun belum tentu bertemu. Dia menjalani bisnis properti bersama keluarga besarnya dan dia mendapatkan tempat di Sidney, Aistralia. Kami sudah berpacaran selama 9 tahun, hmmm iya dari awal kuliah.
Bertemu dengan tidak sengaja tapi satu hal yang aku bingung dari hubungan ini, kami tidak pernah menyinggung masalah pernikahan dan percaya atau tidak kami belum pernah ciuman sama sekali. Mungkin kalian tidak percaya, aku juga begitu tapi ini benar - benar terjadi. Sepasang manusia muda yang telah berpacaran selama 9 tahun tapi tidak pernah berciuman, terasa geli.
Kami menerapkan prinsip pacaran sehat tapi aku rasa pacaran ini lebih sehat dibandingkan mereka yang menganut aliran vegetarian penuh.
Minggu depan Fadly akan ke Indonesia dan dia akan mengurus perusahaan di Indonesia mulai sekarang. Aku senang dan kalian jangan cemburu ya.
***
"Halo Fadly, udah sampai mana?" Pacarku sudah sampai Indonesia, senang seperti tidak bisa diungkapkan. Mungkin kalian bertanya kenapa aku tidak memiliki sapaan yanv romantis seperti "yang, sayang, hubby, bebby, beb, honey, atau nama - nama aneh yang sering kita sebut cinta", bukannya aku tidak mau taoi dia bilang itu menggelikan dan setelah aku pikirkan itu juga sangat - sangat menggelikan.
"Ini aku sudah menuju apartement"
"Oke nanti kalau sudah sampai hubungi ya nanti aku kesana"
"Nggak usah buru - buru, selesikan dulu pekernjaanmu"
"Baiklah"
Kami menutup telepon bersamaan tanpa aba - aba seperti abg jaman sekarang yang setiao selesai telpon selalu bilang "kamu aja duluan, ah nggak kamu aja, jangan kamu aja duluan" gitu aja terus sampai dinosaurus hidup lagi.
Hari ini entah kenapa aku merasa tidak enak padahal pacarku baru saja pulang dari Sidney setelah 4 bulan tidak bertemu. Aku bergegas menyelesaikan pekerjaan dan membatalkan konsultasi hari ini hanya untuk pergi ke apartement Fadly untuk bertemu dengannya.
Perjalanan dari kantor menuju tempat tinggalnya satu setengah jam dan untung tidak macet, kalau macet bisa sampai 4 jam tidak sampai - sampai.
Ternyata Fadly juga baru sampai, terlihat dari dia masih mengenakan jas. Entah kenapa dia selalu cocok mengenakan jas dengan dalaman t-shirt biasa.
Dia mencium keningku dan membuatku kaget, ini pertama kalinga dia menciumku walaupun hanya di kening, aku norak.
"Apa kabat sayang?" Sapanya yang sangat tidak biasa
"Sayang? Wah ini seperti pertama kalinya. Aku baik sepperti yang kamu liat di sekarang"
"Memangnya aku nggak boleh manggil sayang?"
"Boleh dong"
"Oh ya, ntar malam aku ingin kita makan di Resto Ongho" itu salah satu restoran jepang terenak dan terfavorit kami berdua.
"Boleh, ya udah kalo gitu aku balik ya mau siap - siap"
"Oke nanti aku jemput"
Aku bergegas pulang tapi tiba2 aku merasa benar - benar tidak enak.
Malam tiba, aku mengenakan pakaian yang terkesan biasa saja, menggunakan dress selutut dengan rambut yang terurai dan riasan yang serba peach dan pink. Aku berpikir kenapa hari ini seperti kencan pertama anak remaja.
Fadly datang dengan menggunakan jaket army dan celana jeans hitam. Dia datang mnggunakan mobil jazz putihnya. Padahal tadi aku menyarankan dia untuk mengenakan motor saja tapi dia bilang ingi melihatku mengenakan dress jadinua dia memakai mobil dan aku mengenakan dress.
Ditempat makan tidak terjadi apapun, kita hanya menikmati makanan dengan candaan kecil tapi aku sempat memegang tangannya dan melihat ada yang berbeda sesuatu tak sama seperti terakhir aku lihat. Fadly langsung menarik tangannya dan permisi ke kamar mandi.
Aku mulai merasa sangat tidak enak, mungkin aku sedang demam karena sudah 2 hari lembur.
Fadly kembali dari kamar mandi dan kami menyelesaikan waktu makan ini. Kami setuju untuk pergi ke cafe gelato di dekat resto.
Aku bercerita tentang pandanganku mengenai pernikahan bahwa semua wanita diatas 20 tahun sebaiknya mulai memikirkan pernikahan bukan hanya sekedar berpacaran tanpa tau ujungnya. Aku bercerita lagi bahwa hanya sekedar pacaran itu untuk anak yang masih remaja dan sebaiknya mereka setelah dewasa memikirkan hubungan lebih serius bukan untuk terburu - burumenikah tapi untuk meyakinkan apakah pasangan yang diajaknya hari ini pantas dengannya.
"Aran, apa yang kamu katakan akan kamu terapkan ke dirimu sendiri?" Fadly menyela ceritaku dengan pertanyaan yang tak biasa
"Apa kamu ingin menikah denganku?" Fadly melanjutkan pertanyaannya yang membuatku mulai mengernyitkan dahi
"Iya pastinya, aku sudah 25 tahun dan sudah bekerja. Kamu pun seusia yang sama denganku dan bahkan kamu dipercaya mengelola perusahaan di Sidney sendirian. Kamu juga bilang bahwa akan di tempatkan di Indonesia. Dan pertanyaan terakhirmu, apa perlu aku jawab? Kita sudah bertunangan dan akhirnya kita juga akan menikah" aku menjelaskan secara perlahan
"Kalau itu yang kamu inginkan, lebih baik kita....." Fadly menghentikan bicaranya dan seakan sedang bingung ingin berkata sesuatu
"Lebih baik apa?, Katakan saja" bukannya gr tapi tidak masalahkan jika aku berfikir dia akan melamarku
"Lebih baik kiat berhenti sampai disini" Fadly menundukkan kepalanya dan aku sepeeri tak mendengan kalimat apapun yang keluar dari mulutnya
"Maksudmu?"
"Ya kita putus"
"Putus?? Maksudmu kita pacaran 9 tahun hanya untuk putus?" Aku langsung berdiri lupa jika sedang di cafe gelato dan semua orang menatap kearah kami.
Aku langsung pergi keluar setelah menyadari jika kami seperti tontonan mereka. Fadly mengikuti keluar dan meraih tanganku.
"Aran, bisa aku jelasin sebentar" Fadly berusaha meyakinkanku bahwa yang dia katakan tadi ada alasannya.
"Apa yang bisa kamu jelaskan?"
"Lihat cincin ini, apa menurutmu berbeda?" Dia menunjukkan jari tangannya yang berisikan cincin dan cincin itu berbeda dengan cincin pertunangan kami
"Itu cincin siapa?"
"Aku sudah menikah Ran"
Seperti tersambar petir mendengar kalimatnya, kalian kira aku percaya?
"Kamu bohong kan ? Pasti ada alasan lain"
"Kapan aku pernah bohong sama kamu?, Aku menikahinya karena dia hamil. Aku harus betanggung jawab"
"Kamu hamilin orang padahal kamu punya prinsip untuk tidak menyentuh pacarmu sendiri. Bahkan kita belum pernah ciuman tapi kamu hamilin orang?"
"Itu kesalahan Ran, aku minta maaf"
"Kamu kira maaf segampang itu, 9 tahun itu bukan waktu sebentar dan kamu mutusin aku seenteng ini dan minta maaf seakan tak terjadi apa - apa?"
Aku pergi tampa harus berkata apapun lagi. Aku seperti orang bodoh, seperti pemuja cinta. Terlalu percaya akan cinta lama bisa mengubah status pertunangan menjadi pernikahan. Aku menuju rumah Damy karena aku serasa tak memiliki tujuan lainnya.
"Damy" aku menangis setelah sampai di depan rumahnya
"Kamu kenapa Ran?, Sini masuk dulu"
Damy menarikku masuk kedalam rumahnya
"Aku buatin minum ya"
"Aku putus My"
Damy tiba - tiba diam di tempat dan langsung berbalik arah, seakan tak percaya.
"Kamu bercanda?"
Damy tidak jadi mengambilkan aku minum, seakan cerita ku lebih penting
"Alasannya apa?"
Aku hanya bisa menangis dan tak menjawab apapun.
"Menangis aja Ran, nangis sampai kamu sendiri tidak bisa mendengar tangisanmu sendiri" Dami menepuk punggung ku lembut.
" Aku mengerti My, kenapa banyak orang yang tidak ingin memulai lagi sebuah hubungan setelah tersakiti. Mereka memikirkan alasan untuk berhenti saja sudah lelah apalagi harus memulai dagu dari awal". Aku berbicara terbata - bata sambil sesenggukan dengan mata basah dan hidung meler.
"Sudah jangan bicara lagi, mending kamu nangis dan lupakan semuanya" Damy terus menepuk pundakku dan aku menamgis lebih kencang lagi sampai tak mendengar suara tangisanku lagi.
****
Pagi ini aku merasa sangat lelah, wajah yang dipenuhi make up luntur, mata bengkak, baju dam rambut acak2an. Aku merasa kemaren hanya mimpi tapi setelah aku ambil lagi hp ku, tertulis Fadly : 34 misscall dan 50 message.
Aku membalikkan hp ku dan tertidur lagi, aku ingin lupakan semuanya dan lupakan 9 tahun itu dari sekarang.

Selasa, 28 Maret 2017

Dari Aku yang Rindu Kamu (part 1)

Detik jam terlihat begitu cepat, laju mentari terasa kencang, dan malam pun seketika hadir tanpa persetujuan. Semua berlalu begitu saja tapi entah bagaimana aku merasa semua itu berjalan lambat hingga suatu kenangan muncul tanpa menyapa. Seseorang hadir dalam kenangan, setiap gerakan, senyuman, suara, hingga percakapan yang pernah terjadi seperti rekaman yang terulang lagi, seketika tetesan air membasahi pipi ini.
            “ini terjadi lagi” Clarisa menarik napas dalam – dalam dan menghembuskannya sambil mengusap matanya yang basah karena kenangan itu. Dia terbangun menghampiri meja belajarnya, diambilnya sebuah buku besar dia mengusapnya seakan debu yang menempel telah membuat buku itu terlihat usang. “Album Kenangan” begitu tulisan yang nampak pada bagian paling depan, Clarisa membukanya mencari sesuatu yang telah lama hilang dalam hidupnya dan akhirnya dia menemukan halaman yang dia cari.
            “Leo, sesulit inikah bertemu dengan mu bahkan untuk berbicara denganmu aku merasa asing” Clarisa berbicara dengan foto lagi, foto seseorang yang dia cintai, seseorang yang dia tunggu selama ini.
Mencintai mungkin tak sesulit ini jika dia benar – benar mencari seseorang yang dapat menggantikan Leo, seseorang yang memang mencintai dia bukan hanya dia cintai. Leo mungkin tak pernah tau itu, dia mungkin sedang duduk manis dengan kerjaannya, dan tak sedetikpun wajah atau bahkan nama Clarisa hadir dalam ingatannya. Clarisa pernah tegar bahkan lebih tegar darii tembok China tapi dia juga pernah rapuh serapuh lapisan es yang tipis. Setiap hari nama Leo selalu diucapkan bahkan dia tidak sadar nama itu tiba – tiba muncul dalam benaknya. Sahabat – sahabatnya mungkin sudah bosan jika dia cerita tentang Leo hingga dia harus memendam ceritanya sendiri.
Clarisa kembali menutup album tersebut dan dia kembali berbaring di kasurnya, bukan untuk tertidur tetapi dia menggenggam hp nya, dibukanya sebuah social media yang menampilkan foto – foto Leo, dia kembali meneteskan air mata. Akun itu pernah diblokirnya, dengan alasan agar dia bisa melupakan semua kenangan Leo tapi sampai sekarang dia masih sering stalker di akun itu.
            “mungkin dulu aku pernah salah dengannya, iya aku yakin aku punya salah” Clarisa meyakinkan dirinya bahwa kepergian Leo adalah salahnya. Perlahan dia mulai melemah, hp nya terjatuh dari genggamannya, matanya mulai mengatup, dia tertidur dengan profil Leo yang masih terbuka.
*5 tahun yang lalu*
            “ Leo tolong dong ambilin buku diatas meja ku” sambil menunjuk buku yang dimaksud, Leo langsung pergi untuk mengambil buku tersebut.
            “Ini Clar” menyerahkan buku tersebut pada seseorang yang menyuruhnya tadi. Dengan senyumnya yang lebar Leo terlihat memesona.
Hari itu terasa begitu cepat berlalu, Clarisa merasa waktunya menjadi anak SMA akan segera selesai, dia senang karena 1 semester lagi akan menjadi anak kuliahan tapi dia juga sedih karena akan berpisah dengan Leo.

            Tak masalah, kampus yang kutuju juga akan sama dengan yang dia inginkan – Clarisa mengguman dalam hati, terdengar sangat meyakinkan. (bersambung)

Sabtu, 16 Juli 2016

Kamu Adalah Seseorang Itu dan Aku Adalah Dia

Mereka yang tidak pernah mengucapkan kata cinta bukan berarti mereka tak saling mencintai. Susah untuk membuang keegoisan dari diri masing - masing adalah alasan terbesar untuk mencintai secara diam - diam. Seseorang pernah berkata " tak ada cinta yang tak diucapkan kecuali mencintai diri sendiri" tapi semua orang lebih memlih mencintai dirinya sendiri karena tak perlu usaha untuk merangkai kata.
Mereka mencintai, mereka saling diam, dan mereka bersedih karena merasa tak dicintai. Mereka saling mendoakan, saling memandangi wajah dalam foto, atau mungkin bahkan hanya salah satu dari mereka yang melakukan itu, hingga suatu saat saling melupakan dan seakan tidak mengenal satu sama lain.
"cinta" berawal dari mata, tatapan mata seseorang disaat mengalunkan sebuah lagu, tatapan mata seseorang disaat melihatnya berfoto, tatapan mata seseorang saat sedang bahagia, tapi sayang tak ada yang berani mengucapkan kata cinta. Pesan bertuliskan " i love you " yang pernah diterimanya, tapi sayang dia selalu merasa pesan itu hanya palsu bukan seseorang tersebut yang mengucapkannya.
Akhir pertemuan tak ada satu kata pun yang terucap, perpisahan yang menyedihkan baginya. Berharap dapat berbicara dimasa akhir sekolah itu sudah pupus. Dia ingat terakhir kali berbicara dengan seseorang itu, sebelum ujian, iya ujian sekolah. Kalimat terakhir yang dia ucapkan pun masih terasa di lidah " kamu berubah, sudah mulai bolos", kalimat yang tak pernah dibalas oleh seseorang tersebut. Tapi dia senang karena akhirnya seseorang tersebut tidak pernah mengulangi perbuatannya. Waktu terus berlalu, dia selalu ingat hari penting seseorang yang dia cintai, hari ulang tahunnya, ucapan yang sudah dipersiapkan jauh - jauh hari dan alarm yang sudah di pasang pada waktu yang tepat, tapi seseorang itu tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Waktu terus berlalu hingga bertahun - tahun, dia tak mengerti kenapa selalu mancintai seseorang itu, dia mencoba mencari pengganti namun tetap dia mencintai seseorang itu. Hingga akhirnya dia tau kesalahan terbesar sebenarnya adalah keegoisan.
Mereka terlalu egois untuk saling mencintai dan saling mengucapkan cinta. Harapan untuk membanggakan orang tua menjadi penghalang untuk mengucapkan perasaan dan malu serta merasa diri buruk menjadi alasan utama dia memendam perasaannya

Sabtu, 11 Juli 2015

SANI (Cinta Pertamaku)

"Kita semua pasti memiliki seseorang di masa lalu dan mengingatnya setelah begitu lama pergi begitu menyakitkan ketika kita tau bahwa dia telah berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda"

Namanya Sani, orang yang ku kenal hampir 9 tahun lalu. Aku tidak tau awalnya kenapa aku bisa kenal dengannya itu terjadi secara tiba - tiba ketika aku duduk di sebuah warung makan sepulang sekolah, dia dan teman - temannya datang (yang aku tau mereka sekolah siang) menghampiriku dan menyemprotku dengan air putih sambil bercanda, aku langsung saja menyiramnya dengan air yang ada di dalam botol minumku sambil tertawa juga. Kurasa itu pertemuan awal aku dengan dia, sebenarnya aku lupa karena itu terjadi sembilan tahun yang lalu dan itu cinta pertamaku.

Saat itu aku baru kelas 4 SD dan dia 2 SMP, sekolah kami berada dalam lingkungan yang sama jadi walaupun tidak satu sekolah kami masih sering bertemu. aku dan Sani hanya bertemu saat pulang sekolah itupun kalau dia pergi kewarung depan sekolah. Hingga satu tahun berselang, aku tak pernah bertemu lagi dengan dia.

Saat ini aku sudah naik ke kelas 5 SD dan aku juga jarang melihat Sani, hingga suatu saat pelajaran matematika, aku dan teman - teman sedang mengerjakan soal yang diberikan guru aku mengerjakannya dengan antusias dan tiba - tiba Sani dan teman - temannya ada di lorong sebelah kelasku, aku kaget sekaligus senang. Aku ingat saat itu dia menyuruhku untuk maju menjawab soal matematika yang diberikan dan aku langsung mengumpulnya, aku dapet nilai 10 (kalau sekarang 100) dan aku tunjukin ke dia lalu dia ngasi aku 2 jempol tanda hebat.

Aku dan Sani sering ngobrol dan bercanda di jendela lorong, aku senang ketika melihat dia tersenyum, tertawa dan bercanda dengan ku. suatu ketika sekolahku dan sekolahnya mengadakan kegiatan bermalam di sekolah. Aku dan teman - temanku berkeliling melihat - lihat keadaan lingkungan sekolah ku tapi yang ada di otakku cuma Sani, aku mengintip dia dari kejauhan walaupun malam tapi aku bisa melihat wajahnya dan aku bahagia.

Aku termasuk salah satu murid yang aktif, aku mengikuti ekstrakulikuler pramuka dan berlatih setiap sabtu sore, aku ingat ketika waktu itu sedang latihan pramuka dan aku tidak sengaja melihat seseorang dengan pakaian bebas, ternyata itu Sani. Aku tidak tau dia sedang melakukan apa di sekolah sore - sore dengan seorang temannya yang aku kenal, tapi akhirnya aku tau kalau dia mengikuti ekstra tabuh (ekstrakulikuler bermain alat musik tradisional seperti gong). Mulai dari sini aku suka sama pria yang pintar tabuh seperti Sani. Aku selalu ngeledek dia dengan cara memanggil namanya lalu lari seolah - olah dia dipanggil oleh seseorang yang tidak dikenal tapi aku yakin dia tau kalau itu aku.

Aku ingat ketika ada persembahyangan di sekolah, semua murid yang sekolah dilingkungan tersebut melakukan persembahyangan bersama dengan diiringi gambelan dan yang memainkannya Sani, aku sangat senang melihatnya. Ketika persembahyangan dimulai, aku duduk di dekatnya entah bagaimana bisa aku lupa. Saat itu aku selesai duluan dan liat ekspresi muka nya ketika sembahyang, dia benar - benar terlihat tenang dan konsentrasi, dari situ aku yakin dia rajin sembahyang.

Hingga akhirnya suatu hari dimana aku tak akan bisa melihatnya lagi bahkan untuk selamanya yaitu hari kelulusannya, saat itu aku akan naik ke kelas 6 SD, aku merebut juara kelas lagi karena sebelumnya nilaiku jatuh dan aku tidak dapat juara sedangkan sekarang aku mendapat juara karena motivasi Sani yang selalu menyemangatiku di lorong samping jendela. Aku mendapat piagam dan bingkisan hadiah, aku maunya nunjukin ke dia tapi sayangnya kelulusannya diadakan sore hari. Sebenarnya mungkin saja aku dateng terus bilang selamat lulus dan selamat tinggal tapi aku nggak dapat ijin keluar rumah. Akhirnya aku dan dia nggak pernah bertemu lagi tapi aku selalu menyebut namanya dan berdoa suatu saat nanti aku akan bertemu dengnnya lagi.

Hingga sekarang sudah 8 tahun aku dan Sani tidak bertemu tapi saat aku kelas 1 SMP, aku sering melihat temannya kesekolah dan pulang sekolah tapi aku nggak pernah melihat dia. Aku tiba - tiba ingat dia lagi dan iseng untuk mencari dia di sosial media, padahal aku nggak tau nama aslinya karena jujur saja dulu aku sama dia nggak pernah kenalan secara resmi. Aku mencarinya hingga bosan dan menyerah tetapi suatu hari lagi aku mencoba mencarinya dan ketemu satu akun yang namanya mirip seperti dia dan tahun lahirnya kemungkinan benar (aku dan dia beda 4 tahun). Tapi aku lupa dengan mukanya dan aku menemukan pemilik akun ini tidak seperti yang aku bayangkan memiliki rambut panjang, bertato, dan perokok seperti ditampar dan aku merasa seperti mimpi. Aku masih belum yakin kalau itu Sani tapi aku nggak diam begitu saja, aku melihat teman - temannya dan ada satu temannya mirip juga dengan teman Sani saat dia SMP dulu. Dulu aku mengira Sani tidak akan seperti ini, aku mengira dia akan baik, menjadi seorang guru atau bahkan berprofesi yang lebih layak tapi ternayata penyemangatku menjadi seseorang yang seharusnya butuh semangat. Dia bukan Sani yang ku kenal bahkan dia jauh dari Sani yang kukenal dulu.

Ini seperti kisah drama atau ftv ata sinetron, aku sendiri merasa ini hanya ada di film - film tapi aku merasakannya, aku merasakan film - film itu masuk ke kehidupanku, dia yang selalu ada dala doaku, dia penyemangatku, dia telah berubah, malaikatku telah menjadi iblis yang bahkan aku sendiri nggak bisa mengungkapkannya dengan kata - kata. - Selesai

"sekarang aku tau alasan tuhan tidak menyatukan kita, bukan karena aku tak pantas untukmu atau kau tak pantas untukku tapi masa depan kita berbeda bukan untuk bersama tapi untuk berpisah"

"berhenti mencari masa lalu, biarkan hanya kenangan yang tertinggal disana sebelum kita menyesal karena masa depan bisa merubah semuanya. Ketika masa lalu mu adalah jodohmu biarkan dia yang berlari ke masa depan jangan kita yang mencari masa lalu itu"

Rabu, 30 Juli 2014

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama



Adakah yang percaya dengan kalimat “ jatuh cinta pada pandangan pertama “. Bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal dan tiba – tiba ada rasa yang muncul, apakah itu benar – benar cinta? Atau hanya ketertarikan sesaat. Melihat seseorang yang menarik perhatianmu, kamu memikirkannya, dan berusaha mencari identitasnya, tapi kamu tak mengenalnya atau pun dia mungkin saja seseorang yang tak ingin mengenalmu.
Jatuh cinta pada pandangan pertama yang berujung bahagia mungkin ada tapi hanya beberapa orang saja yang akan merasakannya. Sisanya hanya dongeng yang pernah menyelimuti bayangan saja. Bayangkan saja, “cinta” itu berasal dari mata dan turun ke hati, apakah mungkin waktu untuk mata mentransfer cinta ke hati bisa kurang dari 1 sekon?
Ada pula pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang dan tak sayang maka tak cinta”, jadi mungkinkah kita mencintai orang yang tak kita kenal. Terdengar sangat lucu bila kita mencintai seseorang yang baru saja kita kenal tapi bagaimana dengan jatuh cinta kepada seseorang yang sudah lama kita kenal, apakah mungkin dia mencintai kita?
Cinta itu masalah hati, siapapun bisa merasakannya mulai dari pandangan pertama, diam – diam, hingga mencintai seseorang yang sudah lama tak pernah di temui, entah orang yang dicinta itu masih hidup atau sudah tak ada lagi.
Jatuh cinta pada pandangan pertama itu nggak gampang, cuma bisa ngehayalinnya aja ngebayangin wajahnya tanpa tau namanya, tapi bagi seorang pria itu sih gampang tinggal deketin dan ngajak kenalan tapi kalau perempuan apa bisa segampang itu ? perempuan terkadang cuma bisa diem dan nunggu di deketin bukan karena gengsi nya tinggi tapi serba salah, ngedeketin dibilang ganjen dan kalau diem – diem dibilang sombong. Tapi susah juga jadi pria harus punya cara buat selalu deket, romantis, dan perhatian, apalagi selalu cari cara buat nebak kode – kode yang terkadang ambigu. Tapi pada akhirnya cinta yang benar – benar cinta akan selalu melewati proses panjang untuk saling mengenal satu sama lain dan cinta itu nggak seperti makanan yang bisa selalu instan semua butuh proses dan hanya dongeng yang menyajikan cinta yang selalu berujung bahagia. Jatuh cinta itu seperti makan permen kalau makannya kebanyakan bisa sakit gigi tapi kalau sesuai porsi nggak akan ada kondisi yang menyakitkan.
Dikutip dari sebuah film, ada yang bilang “ nggak ada namanya jatuh cinta pada pandangan pertama yang ada suka atau nafsu yang disalah artikan dengan cinta “. Percaya nggak percaya cinta pada pandangan pertama itu tergantung orangnya saja yang menyikapi itu.

Penyesalan Datang Terlambat



Kebahagiaan adalah saat dimana kita sanggup untuk selalu tersenyum, tertawa tanpa batas. Tapi bagiku bahagia adalah hari ini dan tak peduli apa yang telah terjadi kemarin, dan yang akan terjadi besok, yang aku tau, hari ini aku bahagia.
Sosok pria itu masuk dalam hidupku, tapi sesuai dengan apa yang sudah aku putuskan, aku tak ingin jatuh cinta dulu, aku ingin merasakan indahnya pertemanan, apalagi aku baru saja dikhianati oleh seorang pria. Seminggu aku jalani, semua masih terlihat normal – normal saja, hingga akhirnya aku merasakan sebuah perhatian yang lebih dari dirinya. Mulai saat itu aku merasa beda bila didekatnya, terkadang tatapan matanya membuatku begitu indah, dan aku mulai menyadari diriku jatuh cinta. Tapi sesuai dengan niat dari awal aku belum mau jatuh cinta. Tetapi perasaan tetap saja perasaan, aku merasa lebih dalam lagi dan kini mendengarkan namanya saja aku sudah merasa gugup, jangankan melihat orangnya, melihat fotonya saja membuatku deg – degan. Makin lama perasaan ini makin kuat. Semakin kuat aku untuk melupakan, semakin kuat juga perasaan ini tumbuh. Yang awalnya saat aku berbicara dengan dia, aku diam disampingnya, dekat dengan dia itu rasanya biasanya aja, kini ngeliat dia jalan saja aku sudah grogi setengah mati.
Tapi semenjak ada event disekolah, aku dan dia jarang bertemu karena kesibukan kami masing – masing, tapi aku masing sering contact dia, sms dia, karena cuma itu satu – satunya caraku ngilangin kangen sama dia. Aku masih belum habis pikir, apakah dia ngerasain rasa yang sama ya, atau itu hanya perasaanku saja. Aku mulai mencari cara untuk tau, tapi aku nggak mungkin nanya karena jangankan ngobrol, nyapa aja mungkin gemetar. Aku mencoba untuk nggak sms dia, nggak ketemu dia, hingga 3 hari. Padahal dulu 2 hari nggak ada kabar aja, dia langsung sms dan nanyain kabar, tapi sekarang? Semua sudah berubah. Aku mencoba untuk melupakannya, karena aku takut tersakiti untuk kedua kalinya. Aku diam lama hingga akhirnya aku ketemu dia lagi, tapi bukannya rasa ini menghilang malah semakin keras, semakin kuat, dan rasa grogi, gugup gemetar, semakin kuat. Akupun langsung lari saat melihat dia, dan aku merasa dia juga ngeliat aku, aku ngerasa bersalah karena takut dia tersinggung. Aku coba untuk mengklarifikasikan masalah yang terjadi dengan cara memberanikan diri tapi dia malah nggak peduli. Kini aku tau ternyata dibalik kebahagiaan aku mempunyai kesedihan yang amat sangat terpuruk. Dari awal aku sudah berniat untuk tidak menaruh perasaan tapi perasaan tinggal perasaan, jujur aku sakit hingga kini.