Detik
jam terlihat begitu cepat, laju mentari terasa kencang, dan malam pun seketika hadir
tanpa persetujuan. Semua berlalu begitu saja tapi entah bagaimana aku merasa
semua itu berjalan lambat hingga suatu kenangan muncul tanpa menyapa. Seseorang
hadir dalam kenangan, setiap gerakan, senyuman, suara, hingga percakapan yang
pernah terjadi seperti rekaman yang terulang lagi, seketika tetesan air membasahi
pipi ini.
“ini terjadi lagi” Clarisa menarik
napas dalam – dalam dan menghembuskannya sambil mengusap matanya yang basah
karena kenangan itu. Dia terbangun menghampiri meja belajarnya, diambilnya
sebuah buku besar dia mengusapnya seakan debu yang menempel telah membuat buku
itu terlihat usang. “Album Kenangan” begitu tulisan yang nampak pada bagian
paling depan, Clarisa membukanya mencari sesuatu yang telah lama hilang dalam
hidupnya dan akhirnya dia menemukan halaman yang dia cari.
“Leo, sesulit inikah bertemu dengan
mu bahkan untuk berbicara denganmu aku merasa asing” Clarisa berbicara dengan
foto lagi, foto seseorang yang dia cintai, seseorang yang dia tunggu selama
ini.
Mencintai
mungkin tak sesulit ini jika dia benar – benar mencari seseorang yang dapat
menggantikan Leo, seseorang yang memang mencintai dia bukan hanya dia cintai.
Leo mungkin tak pernah tau itu, dia mungkin sedang duduk manis dengan
kerjaannya, dan tak sedetikpun wajah atau bahkan nama Clarisa hadir dalam
ingatannya. Clarisa pernah tegar bahkan lebih tegar darii tembok China tapi dia
juga pernah rapuh serapuh lapisan es yang tipis. Setiap hari nama Leo selalu
diucapkan bahkan dia tidak sadar nama itu tiba – tiba muncul dalam benaknya.
Sahabat – sahabatnya mungkin sudah bosan jika dia cerita tentang Leo hingga dia
harus memendam ceritanya sendiri.
Clarisa
kembali menutup album tersebut dan dia kembali berbaring di kasurnya, bukan
untuk tertidur tetapi dia menggenggam hp nya, dibukanya sebuah social media
yang menampilkan foto – foto Leo, dia kembali meneteskan air mata. Akun itu
pernah diblokirnya, dengan alasan agar dia bisa melupakan semua kenangan Leo
tapi sampai sekarang dia masih sering stalker
di akun itu.
“mungkin dulu aku pernah salah
dengannya, iya aku yakin aku punya salah” Clarisa meyakinkan dirinya bahwa
kepergian Leo adalah salahnya. Perlahan dia mulai melemah, hp nya terjatuh dari
genggamannya, matanya mulai mengatup, dia tertidur dengan profil Leo yang masih
terbuka.
*5
tahun yang lalu*
“ Leo tolong dong ambilin buku
diatas meja ku” sambil menunjuk buku yang dimaksud, Leo langsung pergi untuk
mengambil buku tersebut.
“Ini Clar” menyerahkan buku tersebut
pada seseorang yang menyuruhnya tadi. Dengan senyumnya yang lebar Leo terlihat
memesona.
Hari
itu terasa begitu cepat berlalu, Clarisa merasa waktunya menjadi anak SMA akan
segera selesai, dia senang karena 1 semester lagi akan menjadi anak kuliahan
tapi dia juga sedih karena akan berpisah dengan Leo.
Tak
masalah, kampus yang kutuju juga akan sama dengan yang dia inginkan –
Clarisa mengguman dalam hati, terdengar sangat meyakinkan. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar