Sabtu, 15 Juni 2013

Tidak untuk kehidupan berikutnya

Ya aku tau ini susah, ini menyakitkan, dan taukah kata – kata pun tak sanggup untuk melukiskannya. Perlahan kamu buka pintu hatiku, sedikit demi sedikit berharap akan mendapatkan apa yang kamu cari, tapi setelah setengah jalan tiba – tiba kamu tutup hati ini dengan keras dan kamu pun berlari dengan kencangnya tanpa sadar aku disini terluka. Rasanya sakit, aku mulai mencari pusat rasa sakit ini, aku merasakannya perlahan dan tepat disini, iya disini, dihati ku ini rasanya sakit sekali tapi aku tidak merasakan ada darah sedikitpun atau mungkin luka goresan, tidak ada semuanya tapi kenapa sakit sekali. Mungkin ini hanya perasaanku saja tapi terlihat dikejauhan sana, kamu bersama seseorang, terlihat sempurna dan pastinya tidak seperti ku, pantas saja kamu meninggalkanku, walaupun begitu rasa sakit ini tidak hilang sama sekali malahan makin menjadi. Hari demi hari, minggu bertemu minggu berikutnya, dan bulan berpindah ke bulan berikutnya, aku masih saja tidak bisa melupakanmu, tapi kenapa tidak bisa, kamu melukai ku hingga menganggapku tak ada tapi masih saja aku menaruh bayanganmu dikepalaku, aku bosan, capek, muak, dan semua kata kotor terlontar dipikiranku, aku ingin pergi terlepas dari lingkaran bodoh ini. Aku hampir berhasil hingga seseorang tiba – tiba mendorong ku masuk lingkaran itu lagi.
“hai, kemana saja kamu waktu ini?” terbias senyum indah diwajah orang ini
“aku tidak kemana – mana, kamu saja yang pergi meninggalkan semuanya”
“ahh tidak seperti itu, kaki ku yang membawaku pergi dari sini”
“apa? Kakimu? Bukankah hati mu yang hendak pergi”
“sudahlah kenapa kita malah bertengkar, aku tetap disini kok”
Aku tidak tau kenapa kamu datang kembali kepada ku, menarikku lagi kelingkaran ini, memberikan kata – kata manis, hingga aku terhanyut dalam cerita mu. Lihatlah sikapmu kini, ramah, baik, tak terlihat harapan palsu mu itu, tapi kenapa kini aku malah kesal kepadamu, bukankah kamu sangat perhatian padaku. Kini sore pun menjelma menjadi malam, aku dan kamu berpisah, tak ada kata perpisahan, hanya belaian tangan yang terasa dan jujur itu pertama kalinya kamu memgang tangan ku dan jantungku berdebar kencang. Dalam tidurku yang nyenyak ini kamu muncul dengan bayang – bayang indah nan dramatis hingga fajar pun muncul meneriakkan sinarnya, sontak aku terkaget karena itu hanya mimpi, sudahlah, ini waktu nya aku pergi sekolah dan siapa tau kamu dan kamu akan bertemu lagi. Setelah disekolah aku mendapatkan fakta yang tak sesuai dengan pikiranku tadi, kamu lewat saja dihadapanku, tidak menyapa ku, ataupun lainnya, ada apa ini kenapa sifat dan sikapnya selalu berubah – ubah tiap saat, apakah dia masih menggunahan harapan palsunya untuk mengikatku, tapi kali ini tatapan matanya menyorotku, seakan – akan memberi isyarat bahwa kamu bukan orang yang baik, kamu seperti macan yang bisa kapan saja memakan mangsanya. Huhh Melupakan orang yang sama untuk kedua kalinya saat ini tidak segampang membalikkan telapak tangan, ini butuh perjuangan dan pengorbanan yaitu hati dan perasaan. Mungkin cara yang paling ampuh adalah membencinya dan mencari yang lain, tapi sadarlah lebih gampang melakukan yang pertama karena yang kedua belum tentu akan sebaik seseorang yang ingin ku lupakan ini.
Ya aku membencinya, tidak mau melihat wajahnya, menghapus semua pesan singkatnya tapi tidak untuk nomer hp nya. Sesekali aku masih sempat berpandangan dengannya, terkadang aku yang membuang pandangan tersebut, terkadang juga kamu yang melakukan hal tersebut. Aku bingung dengan semua ini, kenapa aku merasa kamu dan aku akan bersama tapi semakin kuat perasaanku mengingatnya semakin kesal aku dengannya, mungkin ini lebih baik. Hingga beberapa bulan kemudian, aku dan kamu saling tak kenal dan saling melupakan tapi kenapa rasa benci ini terus tumbuh, bukankah kamu tak lagi menggaggu ku, kini aku harus mengikis rasa benci yang berlebihan ini, toh juga ini bukan penuh kesalahannya tapi ini juga kesalahanku yang terlalu mengartikannya lebih, aku lupakan sudah semua ini, biarkan hanya menjadi kenangan yang hanya aku, kamu, dan tuhan yang tau benar rasanya.
Dan itu mengapa dari awal aku tidak ingin menggunakan kata kita, karena aku yakin kamu dan aku tak kan menjadi kita selamanya, sampai kapan pun, walaupun dikehidupan berikutnya kamu dan aku dipertemukan, aku tak ingin ada kata kita, karena aku tidak mau ada rasa suka sedikitpun kepadamu, aku dan kamu akan lebih baik tanpa kehadiran kita.