Ya aku
tau ini susah, ini menyakitkan, dan taukah kata – kata pun tak sanggup untuk
melukiskannya. Perlahan kamu buka pintu hatiku, sedikit demi sedikit berharap
akan mendapatkan apa yang kamu cari, tapi setelah setengah jalan tiba – tiba
kamu tutup hati ini dengan keras dan kamu pun berlari dengan kencangnya tanpa
sadar aku disini terluka. Rasanya sakit, aku mulai mencari pusat rasa sakit
ini, aku merasakannya perlahan dan tepat disini, iya disini, dihati ku ini
rasanya sakit sekali tapi aku tidak merasakan ada darah sedikitpun atau mungkin
luka goresan, tidak ada semuanya tapi kenapa sakit sekali. Mungkin ini hanya
perasaanku saja tapi terlihat dikejauhan sana, kamu bersama seseorang, terlihat
sempurna dan pastinya tidak seperti ku, pantas saja kamu meninggalkanku,
walaupun begitu rasa sakit ini tidak hilang sama sekali malahan makin menjadi.
Hari demi hari, minggu bertemu minggu berikutnya, dan bulan berpindah ke bulan
berikutnya, aku masih saja tidak bisa melupakanmu, tapi kenapa tidak bisa, kamu
melukai ku hingga menganggapku tak ada tapi masih saja aku menaruh bayanganmu
dikepalaku, aku bosan, capek, muak, dan semua kata kotor terlontar dipikiranku,
aku ingin pergi terlepas dari lingkaran bodoh ini. Aku hampir berhasil hingga
seseorang tiba – tiba mendorong ku masuk lingkaran itu lagi.
“hai,
kemana saja kamu waktu ini?” terbias senyum indah diwajah orang ini
“aku
tidak kemana – mana, kamu saja yang pergi meninggalkan semuanya”
“ahh
tidak seperti itu, kaki ku yang membawaku pergi dari sini”
“apa?
Kakimu? Bukankah hati mu yang hendak pergi”
“sudahlah
kenapa kita malah bertengkar, aku tetap disini kok”
Aku tidak
tau kenapa kamu datang kembali kepada ku, menarikku lagi kelingkaran ini,
memberikan kata – kata manis, hingga aku terhanyut dalam cerita mu. Lihatlah
sikapmu kini, ramah, baik, tak terlihat harapan palsu mu itu, tapi kenapa kini
aku malah kesal kepadamu, bukankah kamu sangat perhatian padaku. Kini sore pun
menjelma menjadi malam, aku dan kamu berpisah, tak ada kata perpisahan, hanya
belaian tangan yang terasa dan jujur itu pertama kalinya kamu memgang tangan ku
dan jantungku berdebar kencang. Dalam tidurku yang nyenyak ini kamu muncul
dengan bayang – bayang indah nan dramatis hingga fajar pun muncul meneriakkan
sinarnya, sontak aku terkaget karena itu hanya mimpi, sudahlah, ini waktu nya
aku pergi sekolah dan siapa tau kamu dan kamu akan bertemu lagi. Setelah
disekolah aku mendapatkan fakta yang tak sesuai dengan pikiranku tadi, kamu
lewat saja dihadapanku, tidak menyapa ku, ataupun lainnya, ada apa ini kenapa
sifat dan sikapnya selalu berubah – ubah tiap saat, apakah dia masih
menggunahan harapan palsunya untuk mengikatku, tapi kali ini tatapan matanya
menyorotku, seakan – akan memberi isyarat bahwa kamu bukan orang yang baik,
kamu seperti macan yang bisa kapan saja memakan mangsanya. Huhh Melupakan orang
yang sama untuk kedua kalinya saat ini tidak segampang membalikkan telapak
tangan, ini butuh perjuangan dan pengorbanan yaitu hati dan perasaan. Mungkin
cara yang paling ampuh adalah membencinya dan mencari yang lain, tapi sadarlah
lebih gampang melakukan yang pertama karena yang kedua belum tentu akan sebaik
seseorang yang ingin ku lupakan ini.
Ya aku
membencinya, tidak mau melihat wajahnya, menghapus semua pesan singkatnya tapi
tidak untuk nomer hp nya. Sesekali aku masih sempat berpandangan dengannya,
terkadang aku yang membuang pandangan tersebut, terkadang juga kamu yang
melakukan hal tersebut. Aku bingung dengan semua ini, kenapa aku merasa kamu
dan aku akan bersama tapi semakin kuat perasaanku mengingatnya semakin kesal
aku dengannya, mungkin ini lebih baik. Hingga beberapa bulan kemudian, aku dan
kamu saling tak kenal dan saling melupakan tapi kenapa rasa benci ini terus
tumbuh, bukankah kamu tak lagi menggaggu ku, kini aku harus mengikis rasa benci
yang berlebihan ini, toh juga ini bukan penuh kesalahannya tapi ini juga
kesalahanku yang terlalu mengartikannya lebih, aku lupakan sudah semua ini,
biarkan hanya menjadi kenangan yang hanya aku, kamu, dan tuhan yang tau benar
rasanya.
Dan itu
mengapa dari awal aku tidak ingin menggunakan kata kita, karena aku yakin kamu
dan aku tak kan menjadi kita selamanya, sampai kapan pun, walaupun dikehidupan
berikutnya kamu dan aku dipertemukan, aku tak ingin ada kata kita, karena aku tidak
mau ada rasa suka sedikitpun kepadamu, aku dan kamu akan lebih baik tanpa
kehadiran kita.