Perlahan tapi pasti aku merajut sebuah
impian kembali, ku kumpulkan semua puing – puing kehidupan yang hampir saja
sirna dimakan kenyataan, tapi jujur saja untuk melakukan semua itu aku
membutuhkan waktu yang tak cepat. Ketika aku terdiam, teringat kembali kenangan
manis ku dengan dia, senyumnya, parasnya, matanya, dan dirinya, semua terasa
sempurna, tidak ada yang cacat sedikit pun dimata ku dan ku yakin itu yang
namanya cinta tapi tetap saja walaupun setulus apa cintaku, dia tetap pergi,
merajut mimpinya sendiri tanpa aku didalam kisahnya. Teringat sekali waktu
dahulu bunga mawar yang dia berikan, bertuliskan “kita” tapi sekarang hanya
“aku” dan “kamu”
Teman – teman bilang dia sudah
mempunyai kekasih yang baru, tapi aku move
on saja masih setengah – setengah apalagi jatuh cinta. Setiap melihatnya
dengan kekasih barunya, aku ngerasa semua nya seakan berhenti sampai disini.
Dua tahun sudah aku dan dia berpisah tapi itu tidak cukup membuat ku melupakan
semua nya. Sebelum berpisah aku pernah meyakinkan sesuatu dengannya.
“apakah semuanya nggak bisa
dilanjutin? Kenapa harus berakhir, padahal sudah satu tahun lebih kita pacaran,
tapi kenapa tiba – tiba putus? Tolong jawab !”
“maaf sudah cukup, apa kamu nggak tau,
sikap kamu yang manja dan sok ngatur itu nggak cocok sama sikap aku yang tegas
dan nggak ingin diganggu. Kita memang setahun lebih pacaran tapi lebihnya itu
kita sudah gag cocok, lebih baik kita jalan sendiri – sendiri saja, kamu ya
kamu dan aku ya aku.”
Dan dia pergi begitu saja. Kenapa
setiap hubungan selalu begitu, disaat bersama semuanya terasa baik – baik saja
tapi saat putus terucap semua hal – hal yang tidak diinginkan, apa karena itu
untuk menutupi kesalahan kita sendiri. Andai saja dia mampu menerima ku seperti
aku menerimanya pasti saja kata “kita” itu akan tetap ada. Kalau dipikir –
pikir, aku masih bisa mencari pria lain yang lebih dari dia tapi Cuma ada dia
dan seakan – akan pria lain itu semuanya wanita.
Sekarang aku sudah mulai tegar
kembali, dan aku masih ingin sendiri, setidaknya yang dulu Cuma setengah
sekarang sudah tiga seperempat dan aku pun ngerasa sudah mulai tenang bila
ngeliat dia sama pacarnya. Apalagi sekarang aku sudah biasa kalau ngomong sama
dia. Padahal ada satu pria pernah menyatakan cinta.
“aku sayang sama kamu, mau jadi
pacarku?”
“maaf ya bukan nya aku nggak suka tapi
aku Cuma belum bisa, aku masih pingin sendiri”
“tapi kan sudah lama, dia juga sudah
punya pacar, apa kamu nggak mau nunjukin kalau kamu sendiri bisa punya pacar
dan nggak mikirin dia lagi?”
“kalau tujuannya buat itu nggak bisa,
aku nggak mau sok pamer, ini masalah hati bukan gengsi, biarin aku disini, aku
nggak mau ngulang cinta yang main – main dan ngulang sakit hati itu lagi.”
Aku pun pergi meninggalkan orang egois
itu. Cinta itu bukan permainan, bukan juga paksaan tapi tulus dari hati yang
suci. Itu sebabnya aku belum mau mengulang itu lagi karena aku masih ingin
disini, sendiri, diantara aku dan kisahku sendiri.