Senin, 14 Januari 2013

KAMU


Kamu bagaikan matahari
Yang selalu menerangi hari – hari ku
Kamu bagaikan pelangi
Yang selalu datang di setiap aku bersedih
Kamu bagaikan rembulan
Yang selalu ada disetiap malamku yang gelap
Kamu bagaikan angin
Yang selalu ada setiap aku kegerahan
Kamu bagaikan tanah
Yang selalu ada disetiap aku ingin menumbuhkan  rasa cintaku
Kamu adalah 2 rasa bagiku
Pahit saat pertama bertemu
Manis saat kita bersama

DIANTARA AKU DAN DIRIKU SENDIRI


Perlahan tapi pasti aku merajut sebuah impian kembali, ku kumpulkan semua puing – puing kehidupan yang hampir saja sirna dimakan kenyataan, tapi jujur saja untuk melakukan semua itu aku membutuhkan waktu yang tak cepat. Ketika aku terdiam, teringat kembali kenangan manis ku dengan dia, senyumnya, parasnya, matanya, dan dirinya, semua terasa sempurna, tidak ada yang cacat sedikit pun dimata ku dan ku yakin itu yang namanya cinta tapi tetap saja walaupun setulus apa cintaku, dia tetap pergi, merajut mimpinya sendiri tanpa aku didalam kisahnya. Teringat sekali waktu dahulu bunga mawar yang dia berikan, bertuliskan “kita” tapi sekarang hanya “aku” dan “kamu”
Teman – teman bilang dia sudah mempunyai kekasih yang baru, tapi aku move on saja masih setengah – setengah apalagi jatuh cinta. Setiap melihatnya dengan kekasih barunya, aku ngerasa semua nya seakan berhenti sampai disini. Dua tahun sudah aku dan dia berpisah tapi itu tidak cukup membuat ku melupakan semua nya. Sebelum berpisah aku pernah meyakinkan sesuatu dengannya.
“apakah semuanya nggak bisa dilanjutin? Kenapa harus berakhir, padahal sudah satu tahun lebih kita pacaran, tapi kenapa tiba – tiba putus? Tolong jawab !”
“maaf sudah cukup, apa kamu nggak tau, sikap kamu yang manja dan sok ngatur itu nggak cocok sama sikap aku yang tegas dan nggak ingin diganggu. Kita memang setahun lebih pacaran tapi lebihnya itu kita sudah gag cocok, lebih baik kita jalan sendiri – sendiri saja, kamu ya kamu dan aku ya aku.”
Dan dia pergi begitu saja. Kenapa setiap hubungan selalu begitu, disaat bersama semuanya terasa baik – baik saja tapi saat putus terucap semua hal – hal yang tidak diinginkan, apa karena itu untuk menutupi kesalahan kita sendiri. Andai saja dia mampu menerima ku seperti aku menerimanya pasti saja kata “kita” itu akan tetap ada. Kalau dipikir – pikir, aku masih bisa mencari pria lain yang lebih dari dia tapi Cuma ada dia dan seakan – akan pria lain itu semuanya wanita.
Sekarang aku sudah mulai tegar kembali, dan aku masih ingin sendiri, setidaknya yang dulu Cuma setengah sekarang sudah tiga seperempat dan aku pun ngerasa sudah mulai tenang bila ngeliat dia sama pacarnya. Apalagi sekarang aku sudah biasa kalau ngomong sama dia. Padahal ada satu pria pernah menyatakan cinta.
“aku sayang sama kamu, mau jadi pacarku?”
“maaf ya bukan nya aku nggak suka tapi aku Cuma belum bisa, aku masih pingin sendiri”
“tapi kan sudah lama, dia juga sudah punya pacar, apa kamu nggak mau nunjukin kalau kamu sendiri bisa punya pacar dan nggak mikirin dia lagi?”
“kalau tujuannya buat itu nggak bisa, aku nggak mau sok pamer, ini masalah hati bukan gengsi, biarin aku disini, aku nggak mau ngulang cinta yang main – main dan ngulang sakit hati itu lagi.”
Aku pun pergi meninggalkan orang egois itu. Cinta itu bukan permainan, bukan juga paksaan tapi tulus dari hati yang suci. Itu sebabnya aku belum mau mengulang itu lagi karena aku masih ingin disini, sendiri, diantara aku dan kisahku sendiri.

Kamis, 03 Januari 2013

cinta terlarang

Terkadang siapa saja bisa dan boleh merasakan cinta, tapi kenapa setiap aku merasakan ini, aku selalu ngerasa ini cinta yang amat sangat terlarang, padahal aku jatuh cinta pada lawan jenis, aku juga mencintai orang yang belum berpasangan tapi kenapa semua ini terasa begitu janggal. Bersalah?? iya aku sangat amat bersalah, apalagi bila aku mengingat dirinya, dia yang selalu disampingku, dia yang selalu kulihat, terasa begitu dekat, tapi tetap saja semakin aku dekat, aku harus semakin pergi. Tapi apakah enak? Setiap dia ada didekatku, aku harus menghindar, berpura - pura tidak melihat, seakan - akan dia bukan daftar dalam hidupku. Padahal aku tau selalu saja dipikiranku ada dirinya, dia, dia, dan dia, tapi sampai kapanpun itu tetap salah.
Aku juga susah untuk menjelaskan kenapa ini salah, padahal yang ku tau cinta itu wajib, apabila sesuai jalurnya, tidak dengan sesama atau merebut punya orang lain. Tetapi tetap saja, berbicara dengannya, melihat matanya, senyumannya, seakan aku masuk dalam dunia dongeng, dunia peri, dan aku tersihir, berbicarapun terasa kaku. Aku konyol, seharusnya bila aku suka, aku jalani aja, tapi itu dia, aku takut, takut bila semua orang tau, bukan karena fisik atau apapun, tapi karena takdir kita berbeda. Tpi bukankah yang berbeda selalu indah? tapi perbedaan satu ini tidak seperti yang terbyangkan, aku mencintainya, belum tentu dia juga sama, tapi bila kita saling mencintai? aku pu  harus menjauhinya, karena tidak sepantasnya, seorang aku jatuh cinta dengan dia, status kita berbeda.
Kini apa yang harus aku lakukan lagi, sampai kapanpun aku dan dia tidak bisa bersama, kecuali waktu yang akan menyelamatkan 1 atau 2 tahun lagi, mungkin bisa tapi apakah rasa ini akan bisa menunggu selama itu?? aku yakin sih tidak, sedekat apapun kita bila waktu 1 atau 2 tahun itu kita gunakan untuk menjauh dan saling melupakan, setelah waktu itu kita pasti bubar dan pisah, cinta kita pun begitu hancur. Biarkan saja menjadi kenangan karena kenangan itu lebih indah dibandingkan kenyataan yang pahit, itulah cinta terkadang sulit dimengerti, sekalinya ada goresan kecil selamanya akan berbekas.


Ari Dwi Wahyuni :D